Tampilkan postingan dengan label fisika kelas IX. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fisika kelas IX. Tampilkan semua postingan

Perkalian Vektor

Perkalian Vektor, Artikel ini meliputi Contoh Perkalian titik, Operasi Perkalian silang, Perkalian langsung, perkalian bersifat komutatif dan Pengertian nya.


Setelah sebelumnya membahas Penjumlahan Vektor Dengan Metode Grafis dan Analisis dan Penjumlahan Vektor

Perkalian Vektor

Perkalian vektor Ialah operasi perkalian dengan 2 operand (obyek yang akan dikalikan) "berupa vektor".
Perkalian Vektor Terdapat 3 jenis perkalian vektor, yaitu perkalian titik, perkalian silang,  serta perkalian langsung.




Perkalian titik adalah dua buah vektor yang akan menghasilkan sebuah skalar.
Jenis perkalian yang ini bersifat komutatif.
Perkalian titik
Untuk vektor satuan terdapat hubungan yang khusus dalam operasi perkalian titiknya, yang merupakan sifat yang digunakan dalam perkalian titik, yaitu
operasi perkalian titik

Perkalian silang Hasil suatu perkalian silang 2 buah vektor adalah juga sebuah vektor. Perkalian silang bersifat tidak komutatif.

Perkalian silang
Perkalian langsung
Hasil perkalian langsung 2 buah vektor adalah sebuah tensor atau matriks. Perkalian ini tidak bersifat komutatif.
Perkalian langsung
Sekian artikel dari file education tentang Perkalian Vektor.

Pengertian Optik Fisis dan Jenis-Jenis Optik

Artikel Ini akan membahas lengkap tetang Pengertian alat atau benda optik seperti, Mikroskop, Priskop, Proyektor Slide, Lup, Teropong, OHP dsb.


Mari kita ketahui dahaulu pengertian atau defisnisi dari Optik fasis/fisis : Optik fisis adalah ilmu yang mempelajari menegenai cahaya yang tidak bisa terdefinisi atau tidak terhingga oleh optik geometris dengan pendekatan sinar-nya
Optik sendiripun ada dua yaitu optik fisis dan optik geometri

Optik merukan cabang dari ilmu fisika dalam bahasa inggrisnya adalah phscys, yaitu ilmu yang mempelajari dalam ruang lingkuo konsep cahaya.

Optik fisis ini meliputi sifat-sifat dari cahaya, interferensi dari cahaya, hakikat cahaya dan pemanfaatan cahaya-cahayanya.


Lensa optik bisa terbuat dari bahan kaca, plastik, fiber, dan lain sebagainya. Berikut di bawah ini merupakan arti definisi / pengertian dari beberapa benda / alat optik yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
1. Teropong Bintang
Teropong bintang adalah alat yang digunakan untuk melihat atau mengamati benda-benda di luar angkasa seperti bulan, bintang, komet, dan lain sebagainya. Sifat bayangannya adalah maya, terbalik dan diperbesar.


2. Teropong Bumi
Teropong bumi adalah alat yang digunakan untuk melihat atau mengamati benda-benda jauh yang ada di permukaan bumi. Bayangan yang terbentuk sifatnya maya, diperbesar dan tegak.


3. Mikroskop
Mikroskop adalah alat yang dapat digunakan untuk melihat suatu benda yang jaraknya dekat dengan ukuran yang sangat kecil (mikron) untuk diperbesar agar dapat dilihat secara detil. Sifat bayangan yang terjadi yaitu maya, terbalik dan diperbesar. Biasanya digunakan untuk melihat bakeri, sel, virus, dan lain-lain.


4. Teropong Prisma
Teropong prisma adalah tropong yang berfungsi untuk melihat benda yang jauh agar tampak lebih dekat dan terlihat jelas.


5. Periskop
Periskop adalah teropong yang digunakan oleh kapal selam yang pada umumnya digunakan untuk melihat keadaan sekitar di luar kapal selam.


6. Teropong Cermin
Tropong Cermin adalah teropong yang digunakan untuk melihat benda-benda langit antariksa dengan sifat gambar tidak terbalik, diperbesar, maya.


7. Teropong Radio
Teropong radio adalah benda optik yang digunakan untuk melihat benda angkasa di luar angkasa yang jaraknya sangat jauh sekali.


8. Episkop
Episkop adalah suatu benda yang berguna untuk memproyeksikan gambar yang tidak tembus cahaya dengan sifat bayangan tegak diperbesar.


9. Proyektor Slide
Proyektor slide adalah alat yang memiliki fungsi menampilkan bayangan sebuah gambar positif yang dapat ditembus cahaya.


10. Overhead Proyektor / OHP
Over Head Projectror adalah benda yang berguna untuk melihat bayangan gambar diapositif seperti yang umumnya digunakan untuk presentasi di kelas.


11. Kaca Pembesar / Lup / Loop
Kaca pembesar adalah benda optik yang berguna untuk mengamati benda kecil agar tampak lebih besar dan jelas dengan menggunakan jenis lensa positif.


Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Optika_fisis
http://wardhanawishnu.blogspot.com/2012/04/alat-optik-pengertian-optik-optik.html
http://fisikablogscience.blogspot.com/2009/12/pengertian-alatbenda-optik-mikroskop.html

Soal Dan Jawaban Listrik Dinamis Kelas 9

Soal Dan pembahasan Listrik Dinamis Kelas 3 SMP / 9 SMP
Jawaban Listrik Dinamis
Contoh Soal Listrik Dinamis kelas 3, 9 SMP
Soal Soal Listrik Dinamis

Soal No. 1
Sebuah rangkaian listrik yang sederhana yang terdiri sebuah baterai sebagai sumber tegangan listrik ε dan sebuah beban resistor R.



Jika ε adalah 12 volt dan R adalah 3 Ω tentukan:
a) kuat arus yang mengalir
b) jumlah muatan yang mengalir dalam 1 menit
Pembahasan
a) kuat arus yang mengalir
Untuk rangkaian sederhana seperti di atas cukup gunakan:
I = ε / R
I = 12 / 3
I = 4 A

b) jumlah muatan yang mengalir dalam 1 menit

Q = I x t
Q = 4 A x 60 detik
Q = 240 Coulomb

Soal No. 2
Sebuah rangkaian terdiri dari sebuah sumber tegangan dan sebuah hambatan seperti ditunjukan gambar berikut!



Tentukan:
a) kuat arus I
b) tegangan jepit AB

Pembahasan
a) Berbeda dengan nomor 14, soal ini pada baterai terdapat hambatan dalam yaitu r, sehingga untuk mencari kuat arus rangkaian

I = ε / R + r
I = 12 / (8,5 + 0,5)
I = 12 / 9
I = 4/3 Ampere

b) Tegangan antara titik A dan B bisa ditemukan melalui 2 cara, yaitu
pertama VAB = I x R = (4/3) x 8,5 = 11,33 volt
kedua VAB = ε − I x r = 12 − (4/3)x(0,5) = 11,33 volt

Soal No. 3
Sebuah rangkaian listrik arus searah terdiri dari sebuah baterai 12 volt, dan tiga buah hambatan masing-masing:
R1 = 40 Ω
R2 = 60 Ω
R3 = 6 Ω



Tentukan:
a) hambatan total pada rangkaian
b) kuat arus rangkaian (I)
c) kuat arus pada hambatan R1
d) kuat arus pada hambatan R2
e) apakah Itotal, I1 dan I2 memenuhi hukum kirchoff arus?

Pembahasan
a) seperti nomor 12, adik akan mendapatkan jawaban Rtotal= 30 Ω
b) Kuat arus rangkaian
I = 12 volt / 30 Ω
I = 0,4 A
c) kuat arus pada hambatan R1
I1 = Itotal x (R2 / (R1 + R2)
I1 = 0,4 x (60 / (40 + 60)
I1 = 0,4 x (60 / (100) = 0,24 A
d) kuat arus pada hambatan R2 I2 = Itotal x (R1 / (R1 + R2) I2 = 0,4 x (40 / (40 + 60)
I2 = 0,4 x (40 / (100) = 0,16 A
e) apakah Itotal, I1 dan I2 memenuhi hukum kirchoff arus?
Menurut hukum kirchoff arus,
ΣImasuk = ΣIkeluar
Jadi jumlah I1 dan I2 harus sama dengan Itotal = 0,4 A
Itotal = I1 + I2
Itotal = 0,24 + 0,16 = 0,40 A, sesuai hasil perhitungan point b diatas.

Soal No. 4
Sebuah lampu dipasang pada tegangan 220 volt dan menghasilkan kuat arus listrik sebesar 0,25 A. Tentukan :
a) daya lampu
b) energi yang digunakan lampu dalam 12 jam

Pembahasan
Rumus daya listrik:
P = V x I
a) daya lampu
P = V x I = 220 x 0,25 = 55 watt

b) energi dalam 12 jam = 12 x 60 x 60 detik = 43200 detik
W = P x t = 55 x 43200 = 2376000 Joule

Soal No. 5
Budi membeli lampu bertuliskan 220 volt, 100 watt, perkirakan hambatan yang dimiliki lampu tersebut!

Pembahasan
Mencari hambatan dari daya lampu yang diketahui:
P = V2/ R
R = V2/ P
R = 2202 / 100
R = 484 Ω

Soal No. 6
Anto membeli lampu dengan spesifikasi 220 volt, 100 watt. Jika lampu dipasang Anto pada tegangan 110 volt, berapakah daya lampu saat menyala?

Pembahasan
Hambatan lampu saat dipasang pada tegangan 220 volt maupun 110 adalah tetap
R2 = R1
V22/ P2 = V12/ P1
P2 = (V1/V2)2 x P1
P2 = (110/220) 2 x 100 = 1/4 x 100 watt = 25 watt

Soal No. 7
Pemanas air dengan spesifikasi 200 watt digunakan untuk memasak air bersuhu 30°C sebanyak 0,5 kg. Jika kalor jenis air adalah 4200 J/kg°C tentukan berapa lama waktu yang diperlukan hingga air mencapai suhu 100°C !

Pembahasan
Energi listrik diubah menjadi kalor untuk memanaskan air
Data soal:
P = 200 watt
Δ T = 100 − 30 = 70 °C
m = 0,5 kg
c = 4200 J/kg°C
t = ..........

P x t = m x c x ΔT
200 x t = 0,5 x 4200 x 70
t = 147000 / 200
t = 735 detik
t = 735 / 60 menit = 12,25 menit

Soal No. 8
Sebuah rumah memasang 5 lampu 20 watt dan menyala 12 jam sehari, 2 lampu 60 watt menyala 5 jam sehari, sebuah kulkas 125 watt menyala 24 jam sehari, pesawat TV 200 watt menyala 6 jam sehari dan sebuah setrika listrik 250 watt yang dipakai 2 jam sehari. Jika tarif listrik adalah Rp 750 / kwh, perkirakan biaya listrik rumah tersebut dalam satu hari, satu minggu (7 hari) dan satu bulan (30 hari)!

Pembahasan
Cara menghitung tarif listrik :
Pola:
(watt alat)x(jumlah alat)x(lama pemakaian)

Lampu → 20 watt x 5 x 12 jam = 1200 wh
Lampu → 60 watt x 2 x 5 jam = 600 wh
Kulkas → 125 watt x 1 x 24 jam = 3000 wh
TV 200 → watt x 1 x 6 jam = 1200 wh
Setrika → 250 watt x `1 x 2 jam = 500 wh
---------------------------------------- +
Energi dipakai dalam sehari = 6500 wh = 6,5 kwh
Tarif listrik dalam satu hari = Rp 750 x 6,5 = Rp 4875
Tarif listrik dalam satu minggu = Rp 4875 x 7 = Rp 34125
Tarif listrik dalam satu bulan =Rp 4875 x 30 = 146250


Listrik dinamis bagian 2

Soal No. 1
Dalam waktu dua menit arus listrik sebesar 2 A mengalir sepanjang kawat penghantar. Tentukan:
a) muatan yang berpindah
b) jumlah elektron


Pembahasan
Hubungan kuat arus listrik, muatan listrik dan waktu adalah:

I = Q / t
Q = I x t

Dengan demikian :
a) Q = I x t
Q = 2 x 120
Q = 240 Coulomb

b) menentukan jumlah elektron dalam muatan
n = Q/Qe
dimana:
n = jumlah elektron

Qe = muatan satu elektron (1,6 x 10−19 Coulomb)
Q = muatan yang akan dihitung jumlah elektronnya

sehingga:

n = Q/Qe
n = 240 / (1,6 x 10−19)
n = 150 x 1019
n = 1,5 x 1021 buah elektron

Soal No. 2
Muatan sebesar 360 C mengalir dalam dua menit dalam suatu rangkaian. Tentukan Kuat arus rangkaian listrik tersebut!

Pembahasan
I = Q/t
I = 360 coulomb / 120 sekon
I = 3 Ampere

Soal No. 3
Konversikan satuan berikut:
a) 5 μ C = ........C
b) 100 mC = .........C
c) 5000 nC = .........C


Pembahasan
a) 5 μC = 5 x 10−6 = 0,000005 C
b) 100 mC = 100 x 10−3 = 0,1 C
c) 5000 nC = 5000 x 10−9 = 5 x 10−6 = 0,000005 C

Soal No. 4
Konversikan satuan berikut :
a) 5 kΩ = ....... Ω
b) 0,3 kΩ = .....Ω
c) 5 MΩ = .........Ω

Pembahasan
a) 5 kΩ = 5 x 1000 = 5000 Ω
b) 0,3 kΩ = 0,3 x 1000 = 300 Ω
c) 5 MΩ = 5 x 1000000 = 5000000 Ω

Soal No. 5
Sebuah kawat penghantar memiliki panjang L dan luas penampang A dan memiliki hambatan sebesar 120 Ω. Jika kawat dengan bahan yang sama memiliki panjang 2 L dan luas penampang 3 A, tentukan hambatan kawat kedua ini!

Pembahasan
Rumus untuk menghitung hambatan suatu kawat penghantar adalah:

R = ρL/ A

dimana
R = hambatan kawat (Ω)
L = panjang kawat (m)
A = luas penampang kawat (m2)
ρ = hambat jenis kawat

Kawat yang berbahan sama memiliki hambat jenis yang sama, sehingga
R2 / R1 = (L2/A2) / (L1/A1)

R2 = (L2/L1) x (A1/A2) x R1
R2 = (2L/L) x (A/3A) x 120
R2 = (2/1) x(1/3)
R2 = (2/3)  x 120 = 80 Ω

Soal No. 6
Sebuah kawat penghantar dengan panjang 10 meter memiliki hambatan sebesar 100 Ω Jika kawat dipotong menjadi 4 bagian yang sama panjang, tentukan hambatan yang dimiliki oleh masing-masing potongan kawat!

Pembahasan
Data dari soal:
L1 = L
L2 = 1/2 L
A1 = A2
R1 = 100 Ω

R2 / R1 = (L2/L1) x R1

(luas penampang dan hambat jenis kedua kawat adalah sama!!)

R2 = ( 0,5 L / L) x 100 Ω:
R2 = 50 Ω


Soal No. 7
Ubah satuan berikut:
a) 300 mA = .........A
b) 12 mA = ..........A

Pembahasan
a) 300 mA = 300 : 1000 = 0,3 A
b) 12 mA = 12 : 1000 = 0,012 A

Soal No. 8
Diberikan sebuah rangkaian listrik arus searah terdiri dari tiga buah lampu, dua buah saklar dan sebuah sumber arus listrik. Manakah lampu-lampu yang menyala jika:
a) saklar 1 tertutup, saklar 2 terbuka
b) saklar 2 tertutup, saklar 1 terbuka
c) saklar 1 tertutup, saklar 2 tertutup
d) saklar 1 terbuka, saklar 2 terbuka



Pembahasan
Arus listrik akan mengalir jika terdapat beban dan rangkaian yang tertutup, sehingga:
a) saklar 1 tertutup, saklar 2 terbuka
lampu 2 dan 3 menyala, lampu 1 mati
b) saklar 2 tertutup, saklar 1 terbuka
semua lampu akan mati
c) saklar 1 tertutup, saklar 2 tertutup
semua lampu menyala
d) saklar 1 terbuka, saklar 2 terbuka
semua lampu mati

Soal No. 9
X dan Y adalah dua buah alat ukur listrik yang berbeda. Manakah posisi pemasangan voltmeter dan amperemeter jika yang diukur adalah tegangan pada lampu 3 dan kuat arus pada lampu 3?



Pembahasan
Voltmeter untuk mengukur tegangan antara dua titik, dalam hal ini adalah tegangan pada lampu 3, voltmeter harus dipasang secara paralel dengan beban yang hendak diukur, posisi yang benar adalah X.
Amperemeter untuk mengukur kuat arus yang mengalir melalui suatu beban dalam hal ini adalah lampu 3, ampermeter harus dipasang secara seri dengan alat yang hendak diukur besar kuat arusnya, so, kabelnya dipotong dulu trus sambungin ke kaki Amperemeter,  posisi yang benar adalah Y.

Soal No. 10
Perhatikan gambar berikut



Tentukan hambatan pengganti antara titik A dan B jika R1, R2 dan R3 berturut-turut besarnya adalah 5 Ω, 10 Ω dan 15 Ω!

Pembahasan
Rangkaian diatas adalah tersusun seri, sehingga hambatan penggantinya adalah:

Rt = R1 + R2 + R3
= 5 + 10 + 15
= 30 Ω

Soal No. 11
Pada rangkaian berikut jika R1 = 9 Ω dan hambatan pengganti antara titik AB adalah 6 Ω tentukan besar hambatan  R2 !



Pembahasan
Rangkaian di atas adalah dua hambatan yang disusun secara paralel. Hambatan total untuk paralel adalah

1/ Rt = 1/R1 + 1/R2
1/ 6 = 1/9 + 1/R2
1/R2 = 1/6 − 1/9
1/R2 = 3/18 − 2/18
1/R2 = 1/18
R2 = 18/1 = 18 Ω

Soal No. 12
Dari rangkaian hambatan berikut R1 = 10 Ω
R2 = 9 Ω
R3 = 18 Ω
Tentukan hambatan pengganti antara titik A dan B!

 

Pembahasan
Rangkaian campuran, selesaikan paralel antara R2 dan R3 terlebih dahulu
1/ Rp = 1/R2 + 1/R3
1/ Rp = 1/9 + 1/18
1/ Rp = 2/18 + 1/18
1/ Rp = 3/18
Rp = 18/3 = 6 Ω

Hasil ini kemudian diserikan dengan R1
Rt = 10 + 6 = 16 Ω 

Rangkaian Jembatan Wheatstone

Materi rangkaian jembatan Wheatstone
Contoh Soal rangkain jembatan Wheatstone
Jembatan Wheatstone
Pengayaan Dengan latihan Soal Dan Pembahasaanya Jembatan Wheatstone

Seumpama nilai R1 =6 Ω, R2 = 4 Ω, R3 = 2 Ω, R4 =3 Ω dan R5 =9 Ω. Berapakah nilai hambatan pengganti rangkaian diatas?
Untuk soal-soal Fisika SMA biasanya menampilkan tipe soal tentang jembatan Wheatstone hingga level berikut. Jika:
(R1 x R 3) = (R2 x  R4)
maka R5  dianggap tidak ada atau dihilangkan saja karena tidak akan ada arus listrik yang mengalir melalui R5. Pada soal diatas 6 x 2 = 4 x 3 sehingga ketentuan diatas boleh dipakai. Serikan dua hambatan cabang atas, serikan hambatan cabang bawah kemudian paralelkan hasil keduanya. Hasil yang didapat adalah:
Bagaimana jika bertemu soal dengan rangkaian seperti gambar di bawah?
Rangkain tersebut adalah identik dengan rangkaian sebelumnya, gunakan imaginasi anda kenapa kedua rangkaian tersebut adalah sama!
Bagaimana jika rangkaian Jembatan Wheatstone yang ada tidak memenuhi ketentuan di atas?

 Mari Pengayaan Dengan latihan Soal Dan Pembahasaanya!


Contoh Soal
Diberikan rangkaian seperti gambar dibawah. Jika R1 = 50 Ω, R2 = 60 Ω, R3 = 40 Ω, R4 = 20 Ω, R5 = 30 Ω 
Hitung hambatan pengganti dari rangkaian diatas!


Pembahasan
Pada rangkaian diatas kondisinya adalah:

sehingga R5 tidak bisa dihilangkan begitu saja, harus dimasukkan dalam perhitungan. Solusinya adalah mengganti R1, R4 dan R5 dengan 3 buah hambatan baru sebutlah Ra, Rb dan Rc agar rangkaian diatas bisa diselesaikan secara seri / paralel.  Berikut ilustrasi dan rumus transformasinya:

sehingga rangkaian yang baru adalah seperti gambar berikut:
 dengan

Langkah berikutnya adalah
      seri antara Rb dan R2  didapat : 15 + 60 = 75 Ω
      seri antara Rc dan R3 didapat :   6 + 40 = 46 Ω
      paralel antara dua hasil diatas


terakhir serikan Rparalel   dengan Ra sebagai Rtotal :

Dengan demikian didapatkan hambatan pengganti untuk rangkaian jembatan Wheatstone diatas adalah 37,89 Ω.

Satuan Dimensi Internasional Dan Konversi Satuan

Tabel Dimensi Satuan
Sistem Dimensi Satuan Internasional
Sistem Dimensi Satuan
Sistem Satuan Dimensi Internasional
Sistem Satuan Dimensi inggris
Konvesri Satuan Lengkap
Mencari Dimensi
Cara mencari Dimensi
rumus Dimensi

Tabel Dimensi

physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
acceleration ( a )m s−2L T −2
action ( S )J sL 2 M T −1
angular momentum ( L, J )m2 kg s −1L 2 M T −1
angular speed ( ω )rad s −1T −1
area ( A, S )m2L 2
Avogadro constant ( NA )mol −11
bending moment ( Gb )N mL 2 M T −2
Bohr magneton ( μb )J T −1L2 I
Boltzmann constant ( k, kB )J K−1L2 M T −2 Θ −1
bulk modulus ( K )PaL−1 M  T −2
capacitance ( C )FL−2 M−1 T 4 I 2
charge [electric] ( q )CT I
charge density ( ρ )C m−3L −3 T I
conductance ( G )SL −2 M−1 T 3 I 2
conductivity ( σ )S M−1L −3 M −1 T 3 I 2
couple ( G, T )N mL 2 M T −2
current ( I, i )AI
current density ( J, j )A m−2L −2 I
density ( ρ )kg m−3L −3 M
Konversi Satuan
1 curie = 37,0 x 109 Bq
1 degree (angle) = 17,45329 x 10−3 rad
1 dyne = 10,0 x 10−6 N
1 electron volt = 160,2177 x 10−21 J
1 erg = 100,0 x 10−9 J
1 faraday = 96,4853 x 103 C
1 fermi = 1,0 x 10−15 m
1 foot = 304,8 x 10−3 m
1 furlong = 201,168 m
 




physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
electric displacement ( D )C m−2L −2 T I
electric field strenght ( E )V m−1L M T −3 I −1
electric polarisability (α )C m2 V −1M −1 T −4 I 2
electric polarisation ( P )C m −2L −2 T I
electric potential difference ( V )VL 2 M T −3 I −1
energy ( E, U )JL 2 M T −2
energy density ( u )J m −3L −1 M T −2
entropy ( S )J K−1L 2 M T −2 Θ −1
Faraday constant ( F )C mol −1T I
force ( F )NL M T −2
frequency ( ν, f )T −1T −1
gravitational constant ( G )m −3 kg −1 s −2L −3 M −1 T −2
Hall coefficient ( RH )m 3 C −1L 3 T −1 I −1
Hamiltonian ( H )JL 2 M T −2
heat capacity ( C )J K−1L 2 M T −2 Θ −1
Hubble constant ( H )s −1T −1
Konversi Satuan
1 pound (avoirdupois) = 453,5924 x 10−3 kg
1 psi = 6,894757 x 103 Pa
1 rad = 10,0 x 10−3 Gy
1 rutherford = 1,0 x 106 Bq
1 rydberg = 2,179874 x 10−18 J
1 slug = 14,59390 kg
1 statampere = 333,5641 x 10−12 A
1 statcoulomb = 333,5641 x 10−12 C
1 statfarad = 1,112650 x 10−12 F
1 stathenry = 898,7552 x 109 H
1 statohm = 898,7552 x 109 Ω
1 statvolt = 299,7925 V
1 torr = 133,3224 Pa
1 yard = 914,4 x 10−3





physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
impedance ( Z )ΩL 2 M T −3 I −1
impulse ( I )N sL M T −1
inductance ( L )HL 2 M T −2 I −2
irradiance ( Ee )W m −2M T −3
illuminance ( Ev )L −2 Jlx
Lagrangian ( L )JL 2 M T −2
length ( L, l )mL
luminous intensity ( Iv )cdJ
Conversion Factors
1 inch = 25,4 x 10−3 m
1 kilocalorie = 4,1868 x 103 J
1 kilowatt hour = 3,6 x 106 J
1 knot (international) = 514,4444 x 10−3 ms−1
1 light year = 9,46073 x 1015 m
1 litre = 1,0 x 10−3 m3
1 lumen (at 555 nm) = 1,470588 x 10−3 W
1 maxwell = 10,0 x 10−9 Wb
1 mile (international) = 1,609344 x 103 m
1 mile (nautical, int.) = 1,852 x 103 m
1 mile (nautical, UK) = 1,853184 x 103 m
1 millibar = 100,0 Pa
1 parsec = 30,85678 x 1015 m





physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
magnetic field strength ( H )A m−1L −1 I
magnetic flux ( Φ )WbL 2 M T −2 I −1
magnetic flux density (B )TM  T −2 I −1
magnetic dipole moment ( m, μ )A m 2L −2 I
magnetic vector potential ( A )Wb m −1L  M T −2 I −1
magnetisation ( M )A m−1L −1 I
mass ( m, M )kgM
mobility ( μ )m 2 V −1 s −1M −1 T 2 I
molar gas constant ( R )J mol −1 K −1L 2 M T −2 Θ −1
moment of inertia ( I )kg m 2L 2 M
momentum ( p )kg m s −1L  M T −1
number density ( n )m −3L −3
 Conversion Factors
1 pound (avoirdupois) = 453,5924 x 10−3 kg
1 psi = 6,894757 x 103 Pa
1 rad = 10,0 x 10−3 Gy
1 rutherford = 1,0 x 106 Bq
1 rydberg = 2,179874 x 10−18 J
1 slug = 14,59390 kg
1 statampere = 333,5641 x 10−12 A
1 statcoulomb = 333,5641 x 10−12 C
1 statfarad = 1,112650 x 10−12 F
1 stathenry = 898,7552 x 109 H
1 statohm = 898,7552 x 109 Ω
1 statvolt = 299,7925 V
1 torr = 133,3224 Pa
1 yard = 914,4 x 10−3 m



Alphabetical from P-R.

physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
permeability (  μ )H m−1L  M T −2 I −2
permittivity ( ε )F m−1L −3 M −1 T 4 I 2
Planck constant ( h )J sL 2 M  T −1
power ( P )WL 2 M  T −3
poynting vector ( S )W m −2M  T −3
pressure ( p, P )PaL −1 M  T −2
radiant intensity ( Ie )W sr −1L 2 M  T −3
resistance ( R )ΩL 2 M  T −3 I −2

SI Prefixes

1024yottaY10−24yoctoy
1021zettaZ10−21zeptoz
1018exaE10−18attoa
1015petaP10−15femtof
1012teraT10−12picop
109gigaG10−9nanon
106megaM10−6microμ
103kilok10−3millim
102hectoh10−2centic
101decada10−1decid


 Alphabetical from S-T.

physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
shear modulus ( μ, G )PaL −1 M T −2
specific heat capacity ( c )J kg−1 K−1L 2 T −2 Θ −1
speed (u, ν, c )m  s −1
L  T −1
Stefan-Boltzmann constant ( σ )W m −2 K−4M T −3 Θ −4
stress ( σ, τ )PaL −1 M T −2
surface tension ( σ, γ )N m −1M T −2
temperature ( T )KΘ
thermal conductivity ( λ )W m −1 K−1L  M T −3 Θ −1
time ( t )sT

SI Prefixes

1024yottaY10−24yoctoy
1021zettaZ10−21zeptoz
1018exaE10−18attoa
1015petaP10−15femtof
1012teraT10−12picop
109gigaG10−9nanon
106megaM10−6microμ
103kilok10−3millim
102hectoh10−2centic
101decada10−1decid



physical quantity (symbol)

SI units

dimensions
velocity ( ν, u )m s −1
L T −1
viscosity [dynamic] ( η, μ )Pa sL −1 M T −1
viscosity [kinematic] ( v )m 2 s −1
L 2 T −1
volume ( V, ν )m 3L 3
wavevector ( k )m −1L −1
weight ( W )NL M T −2
work ( W )JL 2 M T −2
Young modulus ( E )PaL −1 M T −2

SI Prefixes

1024yottaY10−24yoctoy
1021zettaZ10−21zeptoz
1018exaE10−18attoa
1015petaP10−15femtof
1012teraT10−12picop
109gigaG10−9nanon
106megaM10−6microμ
103kilok10−3millim
102hectoh10−2centic
101decada10−1decid


Ikuti Cara-cara ini biar mengerti tabel di atas di dapat dari mana

  Rumus ---> Satuan --> Dimensi
dan ingat :
         massa    --> kg --> M   ( dari Mass kali?!  & jangan kliru Meter)
         panjang --> m  --> L   ( dari Length kali )
         waktu    -->  s  --> T   ( dari Time kali )

Gaya
massa x percepatan--> (kg) (m/s2) --> M L T − 2
Massa Jenis
massa / volume --> (kg)/(m3) --> M L−3
Energi
massa x percepatan gravitasi x tinggi --> (kg)(m/s2)(m) --> M L2 T − 2
Tekanan
gaya/luas ---> (kg)(m/s2)/m2 --> M L −1 T −2
Usaha
gaya x perpindahan--> (kg)(m/s2)(m)--> M L2 T −2
Momentum
massa x kecepatan --> (kg)(m/s) --> M L T −1
Impuls
gaya x selang waktu --> (kg)(m/s2)(s) --> M L T −1
Daya
Usaha/waktu --> (kg)(m/s2)(m)/(s) - -> M L 2 T −3
Berat
massa x percepatan gravitasi --> (kg)(m/s2) --> M L T −2
Berat Jenis
berat/volume --> (kg)(m/s2)/(m3) --> M L −2 T −2
Beberapa besaran memiliki kesamaan dimensi, seperti Usaha dan Energi, Gaya dan Berat, Impuls dan momentum.
Untuk soal yang sedikit lebih rumit biasanya ditampilkan rumusnya, tinggal otak-atik, pindah  kanan kiri, atas bawah,  masukkan satuannya baru dikonvert ke dimensi.
Sekedar Contoh:
Diberikan formula    gaya gravitasi antara dua benda sebagai berikut
dengan F adalah gaya (Newton) m1 dan m2 adalah massa kedua buah benda (kg), r adalah jarak kedua benda (m) dan G adalah suatu konstanta yang akan dicari dimensinya.
Dari rumus diatas setelah dibolak-balik didapatkan bahwa
 
masukkan satuannya bawa ke  kg, m dan s. Untuk satuan gaya lihat daftar diatas, didapat


Contoh berikutnya:
Diberikan persamaan gaya pegas
F = k Δ X
Dimana F adalah gaya pegas (Newton), Δ X adalah pertambahan panjang pegas (meter) dan k adalah konstanta pegas. Dimensi konstanta pegas?

OPTIK FASIS











NB : Tinggalkan komentar dan jangan lupa follow atau like blog ini yah.....





CACAT BAYANGAN PADA LENSA

1. Aberasi sferis :
  • Gejala kesalahan pembentukan bayangan akibat kelengkungan lensa. Dapat dihindari dengan diafragma
2. Aberassi khromatis :
  • gejala terurainya sinar polikhromatik ketika melewati lensa, sehingga setiap warna memiliki fokus sendiri. dapat diatasi dengan lensa akhromatik ( yaitu lensa yang berlainan jenis
3. Koma :
  • gejala dimana bayangan sebuah titik sinar yang terletak dilusr sumbu lensa tidak berbetuk titik pula. Dapat dihindari dengan diafragma
4. Distorsi :
  • gejala bayangan benda yang berbentuk bujur sangkar tidak berbentuk bujur sangkar lagi. dapat dihindari dengan lensa ganda dengan difragma ditengahnya
Catatan :
1. Astigmatisme :
  • gejala dimana bayangan benda titik tidak berupa titik tapi berupa ellips atau lingkaran
2. Kelengkungan medan :
  • Letak titik pusat lingkaran yang terbentuk pada peristiwa astigmatisme terletak pada satu bidang lengkung
Dapat diatasi dengan kacamata silindrik


1. Aberasi sferis
:
gejala kesalahan pembentukan bayangan akibat kelengkungan lensa dapat dihindari dengan diafragma

2. Koma
:
gejala di mana bayangan sebuah titik sinar yang terletak di luar sumbu lensa tidak berbentuk titik pula dapat dihindari dengan diafragma

3. Distorsi
:
gejala di mana bayangan benda yang berbentuk bujur sangkar tidak berbentak bujur sangkar lagi dapat dihindari dengan lensa ganda dan diagfragma di tengahnya.

Catatan:
• Astigmatisma : gejala di mana bayangan benda titik tidak berupa titik tetapi berupa elips atau lingkaran.
• Kelengkungan Medan : letak titik pusat lingkaran yang terbentuk dari peristiwa astigmatisma terletak pada satu bidang lengkung.

Contoh:

1. Sebuah lampu kecil diletakkan di muka cermin cekung (fokus = 5 cm) sejauh x. Agar diperoleh perbesaran S kali berapakah nilai x ?
Jawab:
M = | s'/s | = 5
5 x Þ bayangan nyata
-5x Þ bayangan maya
Untuk s' = 5x : 1/f = 1/s + 1/s' ® 1/5 = 1/x + 1/5x
1/5 = 6/5x ® x = 6 cm
Untuk s = -5x : 1/f = 1/s + 1/s' ® 1/5 = 1/x - 1/5x

1/5 = 4/5x ® x = 4 cm

2. Suatu prisma mempunyai sudut pembias b (n = 1.50)
a. Hitung sudut deviasi minimum jika sudut pembiasnya b = 45º
b. Berapa sudut datang yang menghasilkan deviasi minimum pada soal a.

Jawab:
a. Rumus sudut deviasi minimum (untuk b besar0 :
sin 1/2 (b + dm) n2/n1 sin 1/2 b
sin 1/2 (45 + dm) = 15/1 sin 45/2 = 0.574
1/2 (45 + dm) = 35.03 ® dm = 25.06º
b. Untuk deviasi minimum berlaku i2 = r1 = b/2 = 45/2 = 22.5º
Gunakan Snellius:
sin i1/sin r1 = n2/n1 ® sin i1/sin 22.5 = 1.5/1
sin i1 = 1.5 sin 22.5 ® i1 = 35.03º
3. Bayangan nyata yang dihasilkan oleh lensa tipis plankonveks dengan indeks bias 1,52 adalah dua kali besar bendanya. Jika jari-jari kelengkungan permukaan lensa 52 cm hitunglah jarak bayangan benda terhadap lensa.
Jenis lensa plankonveks, maka R1 = 52 cm den R2 = ¥
Pembesaran M = | s'/s | ® 2 = s'/s ® s' = 2s
Fokus lens:
1/f = (n'/n - 1) (1/R1 - 1/R2)
(1.52/1 - 1) (1/52 - 1/¥) ® f = 100 cm
1/f = 1/s + 1/s' ® 1/100 = 1/s + 1/2s ® s =150 cm
Jadi jarak bayangan benda terhadap lensa (s'):
s' = 2s = 2 x 150 = 300 cm

NB : Tinggalkan komentar dan jangan lupa follow atau like blog ini yah..... 

Lensa Gabungan Dan Kekuatan Lensa

LENSA GABUNGAN
Fokus lensa gabungan (fgab) dari beberapa lensa yang diletakkan dengan sumbu berhimpit adalah:
1 / f gab = 1/f1 + 1/f2 + 1/f3 + ......


KEKUATAN LENSA
Kekuatan Lensa (r) dapat dihitung dengan rumus:
P = 1 / f(m) = 100 / f (cm)
satuan dioptri (D)



1. Aberasi sferis
:
gejala kesalahan pembentukan bayangan akibat kelengkungan lensa dapat dihindari dengan diafragma
2. Koma
:
gejala di mana bayangan sebuah titik sinar yang terletak di luar sumbu lensa tidak berbentuk titik pula dapat dihindari dengan diafragma
3. Distorsi
:
gejala di mana bayangan benda yang berbentuk bujur sangkar tidak berbentak bujur sangkar lagi dapat dihindari dengan lensa ganda dan diagfragma di tengahnya.
Catatan:

• Astigmatisma : gejala di mana bayangan benda titik tidak berupa titik tetapi berupa elips atau lingkaran.
• Kelengkungan Medan : letak titik pusat lingkaran yang terbentuk dari peristiwa astigmatisma terletak pada satu bidang lengkung.

Contoh:

1. Sebuah lampu kecil diletakkan di muka cermin cekung (fokus = 5 cm) sejauh x. Agar diperoleh perbesaran S kali berapakah nilai x ?
Jawab:
M = | s'/s | = 5
5 x Þ bayangan nyata
-5x Þ bayangan maya
Untuk s' = 5x : 1/f = 1/s + 1/s' ® 1/5 = 1/x + 1/5x
1/5 = 6/5x ® x = 6 cm
Untuk s = -5x : 1/f = 1/s + 1/s' ® 1/5 = 1/x - 1/5x

1/5 = 4/5x ® x = 4 cm

2. Suatu prisma mempunyai sudut pembias b (n = 1.50)
a. Hitung sudut deviasi minimum jika sudut pembiasnya b = 45º
b. Berapa sudut datang yang menghasilkan deviasi minimum pada soal a.

Jawab:
a. Rumus sudut deviasi minimum (untuk b besar0 :
sin 1/2 (b + dm) n2/n1 sin 1/2 b
sin 1/2 (45 + dm) = 15/1 sin 45/2 = 0.574
1/2 (45 + dm) = 35.03 ® dm = 25.06º
b. Untuk deviasi minimum berlaku i2 = r1 = b/2 = 45/2 = 22.5º
Gunakan Snellius:
sin i1/sin r1 = n2/n1 ® sin i1/sin 22.5 = 1.5/1
sin i1 = 1.5 sin 22.5 ® i1 = 35.03º
3. Bayangan nyata yang dihasilkan oleh lensa tipis plankonveks dengan indeks bias 1,52 adalah dua kali besar bendanya. Jika jari-jari kelengkungan permukaan lensa 52 cm hitunglah jarak bayangan benda terhadap lensa.
Jenis lensa plankonveks, maka R1 = 52 cm den R2 = ¥
Pembesaran M = | s'/s | ® 2 = s'/s ® s' = 2s
Fokus lens:
1/f = (n'/n - 1) (1/R1 - 1/R2)
(1.52/1 - 1) (1/52 - 1/¥) ® f = 100 cm
1/f = 1/s + 1/s' ® 1/100 = 1/s + 1/2s ® s =150 cm
Jadi jarak bayangan benda terhadap lensa (s'):
s' = 2s = 2 x 150 = 300 cm



NB : Tinggalkan komentar dan jangan lupa follow atau like blog ini yah..... 

PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA LENSA CEMBUNG

PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA LENSA CEMBUNG (KONVEKS/POSITIF)

Perhatikan pembagian ruang I, II, III, IV (ruang IV adalah daerah di depan lensa)



PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA LENSA CEKUNG (KONKAF/NEGATIF)
Bayangan yang terbentuk selalu maya, tegak dan diperkecil



Untuk kedua jenis lensa cembung den cekung berlaku rumus:
Lensa tipis
Lensa tebal
1/f = 1/s + 1/s' n1/s + n2/s' = (n2 - n1) / R Lensa +f > 0

Lensa -f < 0

M = |s'/s| = |y'/y|
1/f = (n2/n1 - 1)(1/R1 - 1/R2)
n2 = indeks bias lensa
n1 = indeks bias lingkungan
R1 ; R2 = jari-jari kelengkungan lensa

MENENTUKAN SIFAT DAN LETAK BAYANGAN PADA CERMIN CEKUNG (+) DAN LENSA CEMBUNC (+)
1.
Tentukan Jarak bayangan (s')
s
+ Þ bayangan nyata dan terbalik
- Þ bayangan maya dan tegak

2.
Tentukan pembesaran (M)

M
> 1 Þ diperbesar
= 1 Þ sama besar
< 1 Þ diperkecil
 
3.
Letak benda dan bayangan dapat ditentukan berdasarkan
(No) ruang benda + (No) ruang bayangan = 5
Jika :

(No) ruang benda > (No) ruang bayangan Þ bayangan diperkecil
(No) ruang benda < (No) ruang bayangan Þ bayangan diperbesar

Pada cermin cekung, benda dan bayangan di ruang 1, 2 den 3 adalah positif dan di ruang 4 adalah negatif, begitu juga sebaliknya untuk cermin cembung

NB : Tinggalkan komentar dan jangan lupa follow atau like blog ini yah.....